Kamis, 23 Mei 2013

PR tuk Orang Tua...

Suatu kali, kulihat anak sulungku sedang menyiapkan sesuatu di dapur. Makanan. Kupikir tuk dirinya sendiri, ternyata tuk temannya. 
Teman yang dia maksud, saat itu sedang menunggu di garasi rumah kami. Ada 3 orang semuanya, jadi kupikir (lagi), anakku sedang menyiapkan makanan tuk 4 orang (3 tuk teman-temannya, 1 tuk dirinya).
Tapi sewaktu keluar, ternyata dia cuma bawa 1...
Kutanya, "Kok cuma satu bawanya? Buat siapa, Nak?"
Dia jawab, "Buat si... (menyebut nama salah 1 temannya)"
Kutanya lagi, "Yang lain ga dikasih?"
Dan jawabnya membuatku terkejut. "Ga, Bund. Ini buat bayar utang."

Utang? Utang apa ini? Ada apa sampai anakku berhutang? Ke sesama anak-anak pula? 
Tapi pelan kutanya, "Utang apa tuh?"
Dia jawab, "Abang utang makanan sama dia." 
Lanjutnya lagi, "Jadi waktu itu Abang makan kue di rumah dia, trus dia bilang 'lo utang makanan sama gue ya'. Makanya sekarang Abang bayar..."

Astaghfirullah... Apa-apaan ini??? Aku mulai kesal dan naik darah.
Tapi, masih kucoba tanya pelan lagi.
"Ah, masak sih dia ngomong gitu? Becanda kali..."
Jawabnya, "Enggak, Bund, dia serius. Ini dia dateng juga karna mau nagih utang."

Dhuwarrr!! Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung ke garasi, kroscek. 
Masiiihh dengan nahan-nahan diri, kutanya teman anakku, si penagih utang itu.
"Tante denger ada yang terlibat hutang ya? Gimana critanya tuh?"
Si penagih utang langsung jawab, "Iya, Tante. Waktu itu dia (nunjuk anakku) ikutan makan kue di rumah aku. Jadi sekarang gantian aku minta kue di rumah dia."
Lalu kubilang, "Oooh, itu sih namanya bukan utang. Itu balas jasa. Kamu merasa berjasa udah bagi-bagi kue di rumahmu, dan sekarang minta balas dari sini..."

Trus si penagih utang nyengir, sambil nyaut, "Iya, Tante. Kayak gitu..."

Alhamdulillah, mulai turun rasa kesalku.
"Tapi kan sekarang makanannya di sini cuma satu. Sementara kalian berempat. Siapa yang mau makan?" tanyaku. Sebenarnya pancingan. Pengen tau reaksinya, beneran dia mau makan sendiri atau berubah pikiran.
Kata si penagih, "Aku, Tante. Kan yang dimakan waktu itu kue-kueku."
"Oooo," kataku. Ternyata masih lekat di keyakinannya soal utang atau balas jasa tadi, bahwa tetap dia yang berhak, meski ada teman-teman lain di situ. Ga ada tanda-tanda dia bakal berbagi. "Ya udah, kalo gitu makan aja." Kusuruh anakku kasih kuenya ke dia. Dan makanlah dia dengan lahap. Sendirian. (Kue enak itu bow, yang aku yakin jauh lebih enak dari kue yang dibagi ke anakku di rumahnya. Bukannya sombong, tapi keliatan, dari caranya makan.)

Sementara si penagih utang itu makan, 2 teman lain cuma menonton. Dan kuperhatikan, mereka sebenarnya kepengen juga...

Makin turun rasa kesalku, sampai akhirnya habis, malah jadi kasihan. Kasihan sama si penagih utang, gimana bisa dia punya pemikiran seperti itu? Siapa yang 'ngajarin'? Lalu buat 2 teman lainnya, apa pula yang ada di pikiran mereka, mau aja 'diajak' nontonin orang makan? Kalo toh kehadiran mereka sifatnya 'kecelakaan', alias ga ngerti apa-apa persoalannya, cuma ngikut waktu diajak, kenapa mereka diam saja? Ga punya pendapat, atau ga bisa ngomongnya?

Trus tuk anakku. Apa pula yang ada di pemahamannya tentang utang? Gimana dia bisa 'diyakinkan' bahwa kue yang dibagikan di rumah temannya itu dianggap utang? Sedemikian alpanya aku akan kecerdasan anakku, sampai-sampai ga terbaca kemampuannya menyerap kata-kata orang?

Jelas ini PR buatku...